Sachin Pareek: Dalam Islam, Saya Temukan Tuhan

30 May 2014

Mualaf (ilustrasi)REPUBLIKA.CO.ID, Sachin Pareek, 32 tahun, dibesarkan keluarga dengan tradisi Hindu Ortodoks. Kebetulan keluarganya, berasal dari kelas Brahmana, kelas yang bergengsi dan berpendidikan di kalangan umat Hindu.

“Secara umum, kepercayaan yang saya anut mengikuti keluarga. Saya cukup sadar, pemberlakukan kelas dalam agama saya sangat diskriminatif,” ucap dia, seperti dilansir onislam.net, Rabu (28/5).

Sachin sejak kecil selalu tertarik pertanyaan tentang siapa sosok dibalik alam semesta. Sayang, pertanyaan yang diajukannya sulit dijawab agama yang dianutnya. Namun, Sachin punya keyakinan penuh bahwa ada sosok yang Maha Kuasa, yang mampu mengatur alam semesta beserta isinya.

Pada usia 15 tahun, ia menyaksikan kekerasan komunal. Saat itu, hati dan pikirannya dipenuhi rasa marah dan benci terhadap umat Islam. Pada tahun 1990 dan 1992, ia termasuk orang yang sangat anti-Islam. Perspektif itu mulai melunak ketika tidak ada lagi kekerasan komunal.

Yang membuat Sachin heran, komunitas yang dibencinya itu justru memiliki rasa persatuan yang kuat. Tidak ada pembedaan kelas dalam agama Islam. Ia pun menyadari rasa persatuan itu tidak didorong kekuatan politik atau hal lain. “Kekuatan persatuan umat Islam justru terletak pada ajaran tauhid,” ucap dia.

Ajaran itu, kata Sachin, membuat umat Islam disatukan dengan menyembah Tuhan yang sama, mempraktikan ibadah dan doa yang sama, puasa yang sama dan lainnya. “Pikiran saya kemudian terjebak di antara dua ideologi, yakni tauhid dan syirik,” kata dia.

Pada tahun 1994, Sachin tengah mempersiapkan diri mengikuti ujian sekolah kedokteran. Untuk mempelajari fisik, Sachin sering berinteraksi dengan pembimbingnya, yang merupakan seorang Muslim. Saat itu, tepat bulan Ramadhan. Setiap kali menemui pembimbingnya, Sachin selalu mengikuti buka bersama dan mendengar suara Adzan.

“Ini untuk pertama kalinya, saya mendengar adzan. Saya merinding,” kata dia.

Sejak itu, Sachin secara naluriah terdorong untuk membeli terjemahan Alquran. Ia baca Alquran setiap hari. Entah mengapa, Sachin begitu mudah membacanya. “Alquran ini begitu sederhana, berbeda dan jelas. Ketika membaca surat Al-Ikhlas, saya merasa tertusuk,” kenang dia.

“Bagaimana bisa Allah dengan begitu sederhana diterangkan dalam empat baris saja. Yang membuat saya terkejut, Allah sendirilah yang menjelaskan sifat-Nya dalam bahasa yang sangat sederhana,” katanya.

Untuk kali pertama, Sachin merasa telah menemukan Tuhan. Ia mendapati dirinya berada di depan agama yang ditetapkan Tuhan padanya. Sebagai mahasiswa sains, jelas, Sachin kagum dengan fakta ilmiah yang disebutkan dalam Alquran. “Inilah awal kepercayaan kepada Alquran dan Kenabian Muhammad SAW terbentuk,” kata dia.

Meski sudah menyatakan kepercayaannya, tidak mudah bagi Sachin memutuskan. Ketakutan selalu saja menghantuinya. Namun, waktu itu akhirnya tiba. Sachin tak lagi menemukan halangan untuk menjadi Muslim. Tepat bulan suci Ramadhan di tahun 2006, Ia mengucapkan dua kalimat syahadat.

Keputusannya itu hanya diketahui istri dan ibunya. Istrinya yang sederhana mendukung putusan suaminya itu. Begitu pula dengan sang ibu, yang mengharapkan anaknya serius untuk mendalami apa yang dipilihnya. Di luar itu, ia harus berhadapan dengan ayah dan saudaranya.

“Bagi saya , menjadi seorang Muslim adalah hadiah terbesar dari Yang Mahakuasa . Dengan ini, saya berdoa agar Allah menerangi mereka yang masih berada dalam kegelapan,” ucapnya.

sumber :http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/14/05/28/n6a4s9-sachin-pareek-dalam-islam-saya-temukan-tuhan


TAGS Khazanah


-

Author

Follow Me